dari Kumpulan PUISI GUSFET
KEPASTIAN
‘ Gus Fet
Perpisahan adalah kepastian
Waktu berjalan, tak bisa di mundurkan
Berjalan pelan, tak bisa dimajukan
Kematian adalah keniscayaan
Tak bisa di tolak, tatkala ia datang
Tak bisa diminta, takala hidup bosan
Perpisahan…oh…kepastian
Kematian…oh…keniscayaan
Janji tuhan, pasti datang
Hari akhir adalah janji tuhan
Tak mengerti, waktunya kapan datang
Tak tahu diterima, nikmat atau siksaan
Perpisahan adalah kepastian
Kematian adalah keniscayaan
====
SONG FOR DEMONSTRATOR
‘ Gus Fet
bila ketidakadilan datang…jangan diam, jangan diam.
bila otoritarian nampak…jangan didiamkan, jangan didiamkan.
bila kezaliman meraja…maka tonjoklah, maka tonjoklah
bila rakyat ditindas…maka bergeraklah, ayo bergeraklah
bila korupsi di segala arah…jangan didiamkan, jangan didiamkan.
bila kesombongan negara terlihat…maka lawanlah, maka lawanlah
bila rakyat dirampas haknya… maka rebutlah, maka rebutlah
bila rakyat disengsarakan… maka bergeraklah, ayo bergeraklah !!!
ayo…..
demonstrasi…rakyat ke jalan, itu bukan sensasi
demonstrasi…rakyat bersuara, itu demokrasi
demonstrasi…rakyat bergerak, itu hak asasi
bila rakyat dirampas haknya… maka lawanlah, maka lawanlah
bila rakyat disengsarakan… maka bergeraklah, ayo bergeraklah !!!
ayo demonstrasi…rakyat ke jalan, itu bukan sensasi
demonstrasi…rakyat bersuara, itu demokrasi
demonstrasi…rakyat bergerak, itu hak asasi
demonstrasi… terus bergerak, tapi janganlah keji
demonstrasi…terus melawan, tapi jangan anarki [ ! ]
MENYEBUT MU
‘Gus Fet
Di hutan belantara, berteman serigala
Di rimbun daun, tak tau dimana
Tertutup kabut, tertelan suara
Binatang menggoda, lambaikan tangannya
Tetes embun tak terdengar di telinga
Uap segar tak mampu jadi penawar
Terus berjalan dalam kebekuan
Menari sepi dalam kehampaan
Ku terdiam, dilemparkan
Bunga licin di embun malam
Menyebut-Mu………
Mengingat-Mu……….
Membuat kalbuku, damai..
Merasakan …………
Kehadiran-Mu…………
Menyentuh jiwaku
Merasakan ……..Kehadiran-Mu…..
Menjaga ragaku | Menyentuh jiwa ku
MIMPI BOCAH DI TANAH PERANG
‘Gus Fet
Aku terbangun dalam, kedamaian subuh
Mengayunkan tangan, mengucap takbir
Membesarkan-Mu…memeluk–Mu
Raih segelas air, hangat nan segar
Menyongsong fajar, kebahagiaan
Sarapan senyum, manis keceriaan
Membesarkan-Mu…memeluk–Mu
Menyatakan… Lagu cinta.
Mematikan…. Kebisingan jiwa…
Menantikan kesadaran
Kala lelah menyerang, kupejamkan mata
Dalam keheningan.
Tak mendengar bom, tak tahu senapan
Tak memegang pistol dan tak kenal rudal
Tak mendengar, kematian
Kematian ayah, di medan sana
Kematian bunda, di balik dinding, Kehancuran, hati..
interupsi…interupsi…interupsi…Tuhan,
aku rindu kedamaian…
kapankah aku, bebas dari takut, dan air mata
interupsi…interupsi…interupsi…Tuhan,
“INGAT KAU…, AKU MENANGIS…
‘Gus Fet
Tetesan hujan basahi hati, malam itu…
Perlahan, merembes ke wajah dan dada
Perlahan, panas melanda
Memusingkan kepala, debarkan jantung dan kemarahan
Amukan badai, mulai menggema
Teriakan bocah nelayan, pautkan hati
Deru mesin kapal, semakin terasa bising
Kala menatap sinis yang di pinggir jalan
Kala mengingat kebohongan
Kala menatap kesemuan kehidupan
Kala ego semakin memuncak…
ingat Kau…, aku menangis, akan kepongkahan jiwa
kecurangan raga, pengingkaran akal
dan bisikan hati yang merana
ingat Kau…, aku menangis, akan lagu yang semu
bibir yang membisu, mata yang kosong
hati yang tertidur
ingat Kau…, aku menangis, kala ketulusan yang kadang datang
kerinduan yang tak tertahan
dan bisikan hati yang merana
ketegaran merayap, saat dengar bisikan wahyu,
Memulai… setelah akhir yang semu.
Oleh: ‘Gus Fet
KEBERSAMAAN SEJATI
ADALAH SAAT PERSENGGAMAAN
PERSENGGAMAAN SEJATI
ADALAH KESENDIRIAN
HAKIKAT KEBERSAMAAN
ADALAH KESENDIRIAN
titik…
Oleh: ‘Gus Fet
ku t4k t3rl4lu 4mb1s1 h4r1 1n1.
K4l4u m4u, k3m4r1n pun 5ud4h j4d1.
4ku t4k m4u t3rl4lu b3rh1tung h4r1 1n1,
K4r3n4 b3rh1tung 4d4l4h m4t3r1.
K4l4u m4u, k3mb4l1l4h k3 h4t1 ………
Tidurlah
Gusfet
Ciputat, 22 April 07
Tidurlah,
Lepaskan beban
Pedih, perih di otakmu…..
Susuri hari,
Wujudkan mimpi,
Pasti, pasti di hati…
Kumpulan Puisi Gus Fet diambil dari buku puisi bertajuk “Ma, Pak”. Buku tersebut belum sempat diterbitkan apalagi diedarkan. Semoga dalam waktu dekat bisa dicetak.
Gus Fet adalah masyarakat biasa peminat dunia sastra, dilahirkan di sebuah desa, Selatan Tasikmalaya . Saat ini tinggal di Selatan Jakarta dan bekerja sebagai Peneliti.
selamat meresapi, mendalami rasa…..